IDENTIFIKASI GULMA-GULMA DOMINAN PADA PERTANAMAN PADI SAWAH DAN USAHA PENGENDALIANNYA DI KECAMATAN SAMATIGA KABUPATEN ACEH BARAT


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling mendasar, sehingga ketersediaan pangan khususnya beras bagi masyarakat harus selalu terjamin. Dengan terpenuhinya kebutuhan pangan masyarakat, maka masyarakat akan memperoleh hidup yang tenang dan akan lebih mampu berperan dalam pembangunaan.

Permasalahan pangan sepertinya tak pernah lepas dari kehidupan bangsa Indonesia, terutama petani yang merupakan masyarakat mayoritas Indonesia. Diantara berbagai masalah pangan yang sedang diderita Indonesia, ketergantungan terhadap bahan pangan tertentu misalnya beras dan gandum merupakan hal yang paling memprihatinkan karena menyebabkan ketahanan pangan nasional menjadi rapuh.

Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya hasil beras baik kualitas dan kuantitas adalah gangguan gulma. Gulma sebagai organisme pengganggu tanaman (OPT) termasuk kendala penting yang harus diatasi dalam peningkatan produksi padi di Indonesia. Penurunan hasil padi akibat gulma berkisar antara 6-87 %. Data yang lebih rinci penurunan hasil padi secara nasional akibat gangguan gulma 15-42 % untuk padi sawah dan padi gogo 47-87 % (Pitoyo, 2006).

Program pengendalian gulma yang tepat untuk memperoleh hasil yang memuaskan perlu dipikirkan terlebih dahulu. Pengetahuan tentang biologis dari gulma (daur hidup), faktor yang mempengaruhi pertumbuhan gulma, pengetahuan mengenai cara gulma berkembang biak, menyebar dan bereaksi dengan perubahan lingkungan dan cara gulma tumbuh pada keadaan yang berbeda- beda sangat penting untuk diketahui dalam menentukan arah program pengendalian. Keberhasilan dalam pengendalian gulma harus didasari dengan pengetahuan yang cukup dan benar dari sifat biologi gulma tersebut, misalnya a) dengan melakukan identifikasi, b) mencari dalam pustaka tentang referensi gulma tersebut c) serta bertanya pada para pakar atau ahli gulma. Ketiga cara ini merupakan langkah pertama untuk menjajaki kemungkinan cara pengendalian yang tepat (Sukma dan Yakup, 2002).

Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat, merupakan daerah yang sebagian besar penduduknya membudidayakan padi sawah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Permasalahan terbesar yang saat ini yang dihadapi oleh sebagian besar petani di Kecamatan Samatiga adalah penurunan hasil panen padi akibat gangguan dari gulma. Pengendalian gulma secara langsung yang saat ini diterapkan oleh petani di Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat sebagian besar sangat mengandalkan pengendalian secara kimiawi, sedangkan pemerintah sedang sangat gencar-gencarnya mengupayakan pengendalian organisme penggagu tanaman (OPT) dengan sistem pengendalian terpadu. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Bangun dan Syam (1989), bahwa untuk lebih menekan pertumbuhan gulma dengan hasil yang lebih baik, perlu adanya kombinasi berbagai cara pengendalian yang dikenal dengan pengendalian terpadu yang dapat dilakukan mulai dari pengolahan tanah, cara bercocok tanam, cara pemupukan, dan pengairan yang baik serta dilanjutkan dengan pengendalian secara langsung misalnya pengendalian mekanis, fisis, biologi baru yang terakhir dengan penggunaan zat kimia.

Berawal dari permasalahan tersebut, perlu dilakukan identifikasi gulma-gulma yang terdapat pada persawahan petani di Kecamatan Samatiga. Identifikasi dimaksudkan untuk membantu para petani dalam usaha menentukan program pengendalian gulma secara terarah sehingga produksi padi dapat ditingkatkan sebagaimana yang diharapkan.

1.2. Tujuan Praktik Lapangan

Praktik lapangan ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis gulma dominan, serta untuk mendapatkan informasi tentang pengendalian gulma pada pertanaman padi sawah di Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangsih yang bisa menjadi acuan untuk Pemda Aceh Barat dalam usaha pengembangan pertanian khususnya padi sawah.

III. METODE PRAKTEK LAPANGAN

3.1. Tempat dan Waktu Praktek Lapangan

Praktek lapangan ini dilaksanakan dalam Wilayah Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat yang dimulai sejak bulan September sampai dengan bulan Desember 2007, dengan pengamatan dilakukan terhadap 4 desa sebagai sampel yaitu Desa Pinem, Desa Leukeun, Desa Gampoeng Ladang dan Desa Pangee

3.2. Pengamatan Praktek Lapangan

Praktek lapangan dilakukan dengan menggunakan metode survei dan pengumpulan data secara langsung di lapangan dengan menggunakan metode kuadrat yaitu dengan cara pengamatan plot sampel di lapangan. Dari hasil tersebut nantinya akan diperoleh data yaitu :

1. Data Primer

Merupakan data yang diperoleh melalui pengamatan secara langsung yaitu dengan pengambilan sampel di daerah praktek lapangan dengan menggunakan metode kuadrat. Pengambilan sampel dilakukan untuk mengidentifikasi gulma dan menghitung densitasnya. Sampel diambil atau diamati pada lahan padi sawah yaitu di empat (4) desa sampel (Pinem, Leukeun, Gampoeng Ladang, Pangee) dari 32 desa yang ada di Kecamatan Samatiga. Pada setiap desa sampel diambil sebanyak tiga (3) lahan sawah atau tiga (3) petani dengan empat (4) perlakuan pada setiap petak sawah. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan frame yang berukuran 1m x 1m dengan meletakkan secara acak. Dalam setiap frame ditentukan spesies gulma dengan cara membandingkan dengan gambar yang sudah ada ataupun melalui buku identifikasi dan dihitung densitasnya. Data yang diperoleh dari hasil pelemparan frame dilakukan perhitungan kerapatan relatif, frekuensi relatif, Summed Dominance Ratio (SDR) dan Koofesien komunitas (C) dengan rumus- rumus sebagai berikut (Tjitrosoedijo, 1984):

a. Kerapatan Relatif (KR)

b. Frekuensi Relatif (FR)

c. Summed Dominance Ratio (SDR)

d. Koofesien komunitas (C)

2. Data sekunder

Merupakan data yang digunakan untuk melengkapi data primer. Data sekunder diperoleh dari instansi-instansi yang terkait juga dari berbagai literatur penunjang lainnya serta tanya jawab dengan petani.

IV. MONOGRAFI DAERAH PRAKTIK LAPANGAN

4. 1. Keadaan wilayah

Samatiga merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Barat dengan luas wilayah 15.721 Ha, jarak tempuh dari ibu kota Kabupaten 11 Km, dengan batas-batasnya

- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Bubon

- Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Hindia

- Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Johan Pahlawan

- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Arongan Lambalek

Kecamatan Samatiga terdiri dari 32 Desa/Gampong, meliputi 10 diantaranya yang didaerah pesisir pada tanggal 26 Desember 2006 juga ikut terkena musibah Tsunami. Di kecamatan Samatiga terdapat 52 Kelompok tani yang sudah dikukuhkan dengan jumlah 7 orang anggota dan 1 koordinator penyuluh pertanian.

4. 2. Potensi wilayah

Berdasarkan Pantauan Data dan Analisis di lapangan oleh Balai Penyuluhan Pertanian Samatiga tahun 2008, di wilayah Samatiga dapat di budidayakan berbagai jenis komoditi dominan unggulan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi antara lain:

- Bidang Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (padi, kacang tanah, jagung, cabe, semangka, rambutan, langsat dan durian).

- Bidang Perkebunan (karet, kelapa, kakao dan kelapa sawit).

- Bidang Peternakan (sapi, kerbau, kambing dan unggas).

- Bidang Perikanan (kolam dan perikanan laut).

4. 3. Iklim

Wilayah Kecamatan Samatiga mempunyai curah hujan rata-rata 2664 mm per-tahun dengan rata-rata hujan 128 hari per-tahun, dan temperatur 22 0C sampai dengan 32 0C ( BPP Samatiga, 2008 ).

4. 4. Keadaan Penduduk Kecamatan Samatiga

a. Penduduk berdasarkan jenis kelamin.

- Pria : 7.435 Jiwa

- Wanita : 7.099 Jiwa

- KK : 4.067 KK

b. Penduduk berdasarkan pekerjaan

- Petani dalam arti luas : 80% terdiri dari pria dan wanita

- Pedagang : 5

- Pegawai Negeri Sipil, TNI, Polri : 10 terdiri dari pria dan wanita

- Tukang : 2%

- Lain-lain : 3%

c. Penduduk berdasarkan pendidikan

- Tidak tamat SD : 629 Jiwa (Pria, Wanita)

- Belum Sekolah SD : 187 Jiwa (Pria, Wanita)

- Tamat SD : 5120 Jiwa (Pria, Wanita)

- Tamat SMP : 4986 Jiwa (Pria, Wanita)

- Tamat SMA : 3270 Jiwa (Pria, Wanita)

- Perguruan Tinggi : 389 Jiwa (Pria, Wanita)

(Sumber Kantor Camat Samatiga, 2008)

4. 5. Data usaha tani

Usaha tani yang dilaksanakan di wilayah Samatiga terdiri dari : padi, palawia, sayur-sayuran, buah-buahan, perkebunan, peternakan dan perikanan.

a. Padi sawah

- Realisasi tanam : 320 Ha

- Realisasi panen : 62 Ha

- Hasil rata-rata : 3.5 Ton/Ha

b. Palawija

- Realisasi tanam : 72 Ha

- Realisasi panen : 45 Ha

c. Sayur-sayuran

- Realisasi tanam : 25 Ha

- Realisasi panen : 22 Ha

d. Tanaman perkebunan

- Kelapa realisasi tanam : 75 Ha

- Karet realisasi tanam : 150 Ha

- Kelapa sawit realisasi tanam : 6 Ha

- Kakao realisasi tanam :750 Kg

e. Peternakan

- Sapi penyebaran :750 Ekor

- Kambing penyebaran : 980 Ekor

- Unggas : 8000 Ekor

f. Perikanan

Tambak : 40.46 Ha

(Sumber BPP Samatiga, 2008)

V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Keadaan Umum

Persawahan di Kecamatan Samatiga tergolong persawahan tadah hujan, petani sangat mengandalkan hujan untuk bisa menggarap lahan sawahnya. Beberapa petani ada yang menarik air dari sungai dengan mesin pemompa jika air hujan tidak cukup maupun tidak ada.

Sebagian besar sistem pertanaman padi di Kecamatan Samatiga dilakukan dengan cara sebar langsung ke lahan yang telah diolah, dalam artian hanya sebagian kecil dari petani yang melakukan tanam pindah.

Sistem pengelolaan persawahan di Kecamatan Samatiga dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya (1) mengerjakan sendiri, dalam artian semua anggota keluarga terlibat dalam kegiatan persawahan tersebut (2) mulai dari pembajakan serta pemanenan pemilik lahan tersebut membiayai petani lain untuk mengerjakan lahan sawahnya, ini biasanya dilakukan oleh petani yang juga berprofesi sebagai Pegawai Negeri sipil (PNS) (3) sistem bagi hasil antara pemilik lahan dengan petani yang mengerjakan lahan tersebut.

5.2. Jenis dan Deskripsi Gulma yang Dijumpai Pada Pertanaman Padi Sawah di Kecamatan Samatiga

Berdasarkan hasil dari identifikasi yang dilakukan maka diperoleh jenis-jenis gulma yang terdapat di persawahan Kecamatan Samatiga dengan umur padi 70 hari sebanyak 16 spesies. Adapun jenis gulma dari golongan berdaun lebar adalah Commelina diffusa, C. nudiflora, Ludwigia parennis, L. hyssopifolia, Rotala leptopetela, Monochoria vaginalis, M. hastate. Dari golongan rumput-rumputan adalah Echinochloa crusgalli, E. colonum, Euphorbia hypericifolia, Leptochloa chinensis, . Elatine triandra. Dari jenis golongan teki-tekian Cyperus pilosus, C. diformis, Frimbristylis miliaceae, dan F. albovirindis. Menurut Sastroutomo (1990) bahwa, terdapat kurang lebih 33 jenis gulma yang dijumpai tumbuh pada pertanaman padi sawah dengan perincian 10 jenis dari golongan rerumputan, 7 teki-tekian, serta 16 jenis golongan gulma berdaun lebar, dan jenis gulma yang sering kali dijumpai serta termasuk yang dominan adalah Monochoria sp, Fimbristylis sp, Cyperus sp, Echinochloa sp, Commelina sp.

Adapun deskripsi gulma yang di jumpai pada pertanaman padi sawah di Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat adalah sebagai berikut:

a. Gulma Dari Golongan Berdaun Lebar.

Ø Commelia diffusa (L.) (Commelinaceae)

C. diffusa dikenal dengan nama tali said, kali kadang, gewor ( Sunda), brambangan, jeboran, glegor, gragos (Jawa).

C. diffusa merupakan tumbuhan setahun, tumbuh tegak atau pangkal tumbuh menjalar dengan panjang 10 – 110 cm. Batangnya berbentuk bulat, pada bagian yang menjalar sering mengeluarkan akar-akar pada buku-bukunya. Pangkal daunnya mempunyai pelepah yang jelas kelihatan memeluk batang dan berbulu-bulu lembut. Panjang daun 1,5 – 6 cm, dengan lebar 20 mm. Daun yang kecil berbentuk bulat memanjang, sedang yang besar berbentuk garis-garis lanset, bagian pangkal lebar, runcing, tidak berbulu-bulu atau dapat berbulu-bulu lembut tipis. Bunganya mempunyai daun mahkota berwarna ungu, bentuk agak bulat atau lonjong, panjang 4-6 mm. Biasanya terdapat di tempat-tempat yang terlindung, tempat-tempat yang tidak terlalu kering, kebun-kebun (Sundaru et al , 1976).

Ø Commelina nudiflora (L.)

C. nudiflora dikenal dengan naman tali said, kali kadang, gewor (Sunda), brambangan, jeboran, glegor, gragos (Jawa).

C. nudiflora merupakan tumbuhan setahun, tumbuh tegak atau bagian pangkal tumbuh menjalar dengan panjang 10 – 110 cm. Batangnya bentuk bulat, pada bagian yang menjalar sering mengeluarkan akar-akar pada buku-bukunya. Pangkal daun mempunyai pelepah yang jelas kelihatan memeluk batang dan berbulu-bulu lembut yang tipis. Bunganya dengan daun mahkota berwarna ungu, bentuk agak bulat atau lonjong , panjang 4 – 6 mm. Benang sari 2; benang sari mandul 4. Buahnya panjang 4 – 6 mm. Biasanya terdapat di tempat-tempat terlindung, tempat-tempat yang tidak terlalu kering, juga di kebun – kebun (Soerjani et al., 1987)

Ø Rotala leptopetela (Bl.) Koehne

R. leptopetela merupakan tumbuhan setahun atau tahunan, tumbuh tegak atau kadang-kadang menjalar, dengan tinggi 10 – 50 cm. Batangnya agak lunak, bersegi, sering dengan warna putih keungu-unguan. Daunya berhadapan, bersilang, bentuk bulat memanjang (lanset), membulat, panjang 9 – 30 mm, lebar 3 – 9 mm. Bunganya berdaun mahkota kecil, lebih pendek dari pada daun kelopak, tepi rata, panjang 0,2 – 0,5 mm. Daun kelopak runcing atau agak meruncing pendek. Buahnya pada bagian pangkal berwarna hijau, sedangkan pada ujungnya berwarna merah ungu, dengan diameter 2 mm, berdinding tipis, dengan biji-biji banyak yang sangat kecil. Tempat tumbuhnya biasanya di sawah-sawah yang berair/lembab, tepi-tepi sungai atau selokan (Soerjani et al., 1987).

Ø Ludwingia hyssopifolia (G. Don) Exell

L. hyssopifolia dikenal dengan nama water primrose (Inggris), juku anggereman, mainang, cacabean (Sunda).

L. hyssopifolia merupakan tumbuhan setahun, tumbuh tegak, ada yang tanpa bulu-bulu dan ada agak berbulu-bulu dengan panjang 50 – 150 cm. Batangnya bersegi, sering berwarna hijau kemerah-merahan. Bentuk daunnya bulat memanjang dan lanset, letak berselang seling, meruncing kearah ujung, panjang 1 – 10 cm lebar 0,25 – 3,5 cm. Tepi daun sering berwarna ungu kemerah-merahan. Bunganya terdapat di bagian pangkal daun bagian atas. Daun mahkota 4, warna kuning, bentuk bulat telur-jorong, panjang 3 – 5 mm. Buahnya berupa kapsul, panjang 1 – 2,5 cm, bentuk ramping hampir bulat, warna kemerah-merahan. Tempat tumbuhnya biasanya di selokan dan kolam-kolam yang dangkal, tepi-tepi sungai, sawah (Soerjani et al., 1987).

Ø Ludwingia parennis (L.)

L. parennis sama dengan gulma L. hyssopifolia, tetapi cabangnya agak lurus kesamping, tingginya lebih rendah dari L. hyssopifolia yakni 10 – 75 cm. Batangnya bersegi berwarna agak keungu-unguan, daunya bersebar berselang-seling meruncing ke ujung. Bunganya berangkai rindang, dengan tabung kelopak bunga tidak menonjol. Daun bunga berjumlah 4 berwarna agak menguning, biasanya berbunga sepanjang tahun.

L. parennis biasanya hidup di dataran rendah dan di tanah yang agak lembab, juga di sawah. Di Indonesia gulma ini terdapat di Sumatra, Jawa dan Sulawesi (Soerjani et al., 1987)

Ø Monochoria vaginalis (Burm.f.) Presl

M. vaginalis dikenal dengan nama monochoria, pickerel-weed (Inggris), enceng lembut (Sunda), weweyan, bengok (Jawa).

M. vaginalis merupakan tumbuhan tahunan dengan tinggi 10 – 50 cm, tumbuh tegak dengan rimpang yang pendek. Daunnya pada waktu muda berbentuk panjang dan sempit, kemudian berbentuk lanset, sedangkan yang sudah tua berbentuk bulat telur-bulat memanjang. Bunganya biasanya sebanyak 3 – 25, terbuka secara serentak. Perhiasan bunga panjang 11 – 15 cm, tangkai bunga 4- 25mm. Buah M. vaginalis mempunyai diameter kurang lebih 1 cm. Tempat tumbuhnya di tanah berawa terutama di sawah-sawah (Sundaru et al., 1976).

Ø Monochoria hastata (L.) Solms

M. hastata dikenal dengan nama pontederia hastata (Inggris); enceng gendeh, enceng kebo (Sunda); weweyan (Jawa).

M. hastata berbeda dengan M. vaginalis, lebih tinggi yakni 30 – 125 cm, stolonnya lebih baik, dan dilindungi dengan pelindung bunga yang lebih bagus, kelopak bungan lebih pucat dari M. vaginalis. berasal dari daerah tropis yakni Asia juga terdapat di Australia dengan tempat tumbuh sama dengan M. vaginalis yakni di daerah yang berawa-rawa terutama di sawah (Soerjani et al., 1987)

b. Gulma Golongan Rerumputan

Ø Echinochloa crusgalli (Gramineae)

E. crusgalli dikenal dengan nama barnyard grass (Inggris), jajagoan (Sunda), jawan (Jawa), orang Aceh menyebutnya dengan ikue tupee dan bahasa setempat dikenal dengan nama naleung saddam huseen.

Gulma ini merupakan tumbuhan setahun, perakarannya dangkal, tumbuh berumpun, dengan tinggi batang 50 – 150 cm. Batangnya kuat dan kokoh, tumbuh tegak serta daunnya rata/datar dengan panjang 10 – 20 cm, lebar 0,5 – 1 cm. Bentuk garis meruncing ke arah ujung, yang mula-mula tumbuh tegak kemudian merunduk, panjang 5 – 21 cm, terdiri dari 5 – 40 cm tandan. Biasanya terbentuk piramid sempit, warna hijau sampai ungu tua. Bulirnya banyak, anak bulir panjang 2 – 3,5 mm, berambut. Kepala sarinya mempunyai diameter 0,6 – 0,85 mm. Buah E. crusgalli disebut caryopsis, berbentuk lonjong, tebal, panjang 2 – 3,5 mm. Biji yang tua berwarna kecoklat-coklatan sampai kehitam-hitaman.

E. crusgalli terdapat di tempat-tempat basah, kadang-kadang terdapat juga di tempat setengah basah. Di sawah tumbuh bersama padi, akan tetapi umumnya lebih tinggi dan berbunga lebih dulu dari pada padi (Sundaru et al., 1976). (Gambar terlampir).

Ø Echinochloa colonum (L.) Link

E. colonum dikenal dengan nama barnyard grass, jungle rice (Inggeris), jajagoan letik (Sunda), tuton (Jawa) serta bahasa setempat sering dinamakan juga naleung saddam huseen.

E. colonum merupakan tumbuhan setahun, perakarannya dangkal/pendek, tumbuh berumpun, tinggi kira-kira 10 – 100 cm. Batangnya ramping, tumbuh tegak dan menyebar. Daun berbentuk garis, agak lebar di bagian pangkal dan meruncing ke arah ujung. Tidak mempunyai bulu-bulu atau kadang-kadang terdapat sedikit di bagian pangkal. Bagian tepi daun sering kelihatan berwarna ungu. tidak mempunyai lidah-lidah. Karangan bunganya terdapat di ujung malai tegak, yang panjangnya 3 – 15 cm dengan 3 – 18 tandan. Anak bulir lebih kurang berbentuk lonjong, dengan panjang 2 – 3 mm, berwarna hijau sampai ungu, mempuyai bulu-bulu, dan bertangkai pendek. Kepala putik seperti bulu ayam, dengan warna ungu. Kepala sari panjang 0,7 – 0,9 mm. Buah E. colonum berbentuk ellips, datar cembung, panjang 1,5 mm. E. colonum terdapat di sawah tumbuh bersama-sama padi, serta di tempat-tempat basah sampai setengah basah lainnya ( Sundaru dan Syam, 1976).

Ø Euphorbia hypericifolia (L.)

E. hypericifolia merupakan rumput liar yang dikenal dengan nama milkweed merupakan tumbuhan tahunan dengan tinggi kurang lebih 50 cm. Batangnya menjalar, berbulu halus agak samar-samar berwarna putih pada saat waktu muda dan pada waktu tua tidak lagi berbulu. Bunganya berwarna merah muda di kepala putik. Buahnya berbulu agak samar-samar seperti lapisan putih tipis yang rapat, pada waktu akan matang berubah warna menjadi agak cokelat dan selanjutnya baru buahnya pecah.

E. hypericifolia berasal dari daerah tropis di Amerika yang merupakan tumbuhan yang dapat hidup di tanah yang lembab juga tanah keras, dan juga di tanah yang banyak ditumbuhi rumput-rumput lainya tetapi umumnya di lahan padi sawah (Soerjani et al., 1987)

Ø Leptochloa chinensis (L.) Nees

L. chinensis dikenal dengan nama red sprangletop (Inggris) bebotengen (Sunda) timunan, kartokot (Jawa).

L. chinensis merupakan tumbuhan setahun/tahunan, dengan tinggi 50 – 100 cm. Batangnya agak ramping, licin, kokoh. Daunnya tipis, rata/datar, berbangun garis, meruncing panjang 10 – 30 cm, lebar 0,5 – 1,5 cm. Karangan bunga L. chinensis terdapat di ujung, tersusun pada suatu poros, biasanya dengan panjang lebih kurang separuh dari panjang keseluruhan batang, berwarna kemerah-merahan atau keungu-unguan. Tandan tebal, umumnya tunggal atau dapat 2 – 4 bersama-sama, dengan panjang 5 – 15 cm. Anak bulir mempunyai ciri tersusun 3 – 6. L. chinensis biasanya terdapat di tempat-tempat berlumpur, serta di tempat-tempat basah ( Sundaru dan Syam, 1976).

Ø Elatine triandra Schkuhr

E. triandra merupakan rumput liar tahunan yang tumbuhnya merambat, umumnya bercabang banyak, bentuk tebal dengan panjang 1 – 15 cm. bunganya kecil berselang seling. Bunganya mempunyai daun bunga yang biasanya berjumlah 2 – 3, yang berselaput seperi bujur telur dengan warna merah muda atau putih dengan ukuran 1 – 1,25 mm. benang sari bunganya 3 dengan 2 kepala putik. Biasanya berbunga sepanjang tahun.

E. trianda berasal dari Eropa, sekarang di jumpai di negara-negara seperti Amerika, India, Australia, New Zealand, Malaysia, juga di Indonesia yang tempat hidup biasanya di dekat-dekat danau atau daerah-daerah yang berair, juga di jumpai di lahan-lahan sawah (Soerjani et al., 1987)

c. Gulma dari Golongan Teki-tekian.

Ø Frimbristylis miliaceae (L.) Vahl (cyperaceae)

F. miliaceae dikenal dengan nama lesser fimbristylis (Inggris), panon munding, babawangan (Sunda), sunduk welut, sriwit, tumburan (Jawa), naleung sengko (Aceh)

F. miliaceae merupakan tumbuhan setahun, tumbuh berumpun, dengan tinggi 20 – 60 cm. Batangnya ramping, tidak berbulu-bulu, bersegi empat, dan tumbuh tegak. Daunnya terdapat di bagian pangkal, bentuk bergaris, menyebar lateral, tepi luar tipis, panjang sampai 40 cm. Bunganya berkarang dan bercabang banyak. Anak bulir kecil dan banyak sekali, warna cokelat dengan punggung berwarna hijau, bentuk bola sampai jorong, dengan ukuran 2 – 5 mm x 1,5 – 2 mm. Buahnya berwarna kuning pucat atau hampir putih, bentuk bulat telur terbalik. Biasanya terdapat di tempat-tempat basah, berlumpur sampai semi basah, umumnya terdapat pada lahan sawah (Sundaru, et al , 1976).

Ø Frimbristylis alboviridis C. B. Clarke

F. alboviridis sama juga dengan F. miliaceae merupakan tumbuhan tahunan, dengan akar berserat, batangnya langsing, berumbai-umbai, tumbuh tegak. Bunganya tersusun pada tangkai dengan daun kecil pada bunga yang agak pendek. Buah berwarna kuning agak pucat atau hampir keabu-abuan.

F. alboviridis tumbuh di pinggir-pinggir jalan, pada daerah dataran rendah dan umumnya di sawah. F. alboviridis berasal dari Asia, dengan perkembangannya dari India ke Malaysia selanjutnya ke Philipina dan masuk ke Indonesia (Soerjani et al., 1987).

Ø Cyperus difformis (L.)

C. difformis dikenal dengan naman umberella plant, smaller flower umbrella plant (Inggris), jukut papayungan (Sunda), sunduk welut (Jawa).

C. difformis merupakan tumbuhan tahunan, tumbuh berumpun, 10 – 70 cm. Batangnya berbentuk segitiga licin, agak lunak, menajam pada ujungnya, sering berwarna agak hijau kekuning-kuningan. Daunnya dalam jumlah yang sedikit terdapat pada bagian pangkal batang, umumnya lebih pendek dari pada batang dengan lebar 2 – 8 mm. Bunganya berkarangan terdapat di ujung, umumnya anak bulir banyak dan membentuk suatu masa yang berbentuk bulat pada ujung cabang. Mempunyai 2 atau 3 daun pelindung seperti daun yang disebut daun pembalut. Anak bulir mempunyai ukuran panjang 4 – 8 mm, dan lebar lebih kurang 1 mm. C. difformis biasanya terdapat di tempat- tempat basah dan berlumpur, terutama di sawah (Soerjani et al., 1987)

Ø Cyperus pilosus Vahl

C. pilosus dikenal dengan nama rumput jengking, rumput rajang (Indonesia); hilut, ilat (Sunda); lambungan sapi (Jawa).

C. pilosus merupakan tanaman liar yang hampir sama dengan C. difformis tetapi berbeda pada danser susunan bunga di tangkai pada ujung cabang agak lebih kecil. C. pilosus berasal dari negara-negara Asia diantaranya di Jepang, Malaysia, dan Indonesia. Biasanya hidup di tanah yang basah, rawa, terutama di sawah (Soerjani et al., 1987)

5. 3. Pengendalian Gulma Padi Sawah Di Kecamatan Samatiga

Adanya gulma pada lahan padi sawah sangat mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi yang akhirnya dapat menurunkan hasil panen baik kualitas maupun kuantitas. Untuk menanggulangi hal tersebut para petani di Kecamatan Samatiga melakukan pengelolaan dalam proses pengendalian gulma dengan cara sebagai berikut :

1. Pengendalian secara tidak langsung

* Pengolahan tanah

Pengolahan tanah kali pertama dimulai dengan pembajakan yang diikuti dengan penggaruan untuk menghasilkan tanah yang berlumpur sempurna. Tujuan pengolahan tanah disamping untuk menciptakan lingkungan fisik yang baik untuk pertumbuhan padi juga secara tidak langsung memutuskan siklus hidup gulma.

* Penggenangan

Sebelum dilakukan penanaman, dilakukan pemerataan lumpur agar penyebaran benih padi ke lahan merata, selanjutnya diendapkan dengan menggenangi air di lahan minimal 3 hari dan maksimal 1 minggu. Proses ini secara tidak langsung menjadikan gulma sisa-sisa dari pengolahan tanah ikut terbenam.

* Pemupukan

Pemupukan secara berimbang dan benar dosis serta waktu pemakaian dapat mengurangi atau mencegah perkembangan gulma. dalam hal ini petani di Kecamatan Samatiga pada umumnya melakukan pemupukan setelah dilakukan pengendalian gulma secara kimia dengan tujuan agar tanaman padi lebih cepat tumbuh atau mendominasi perebutan unsur hara dengan gulma jika gulma tersebut tumbuh kembali.

2. Pengendalian secara langsung

* Pengendalian secara kimia.

Proses ini dengan penggunaan herbisida yang diaplikasikan setelah tanam. Pengendalian yang dilakukan yaitu pada waktu umur padi 15-20 hari setelah benih padi disebar langsung. Herbisida yang digunakan oleh petani di kecamatan Samatiga umumnya yang bahan aktif 2, 4D Dimethyl amina.

* Penyiangan

Penyiangan dilakukan oleh petani sesudah melakukan pengendalian dengan cara kimia. Umumnya petani-petani di Kecamatan Samatiga sangat mengandalkan pengendalian secara kimia yakni pemakaian herbisida, setelah itu baru melakukan penyiangan.

5.4. Perhitungan Summed Dominance Ratio (SDR) Gulma Dari Lahan Persawahan Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat

Hasil dari perhitungan Summed Dominance Ratio (SDR) dari masing-masing jenis gulma pada setiap perlakuan adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Nilai SDR masing-masing jenis gulma yang terdapat pada lahan padi sawah di setiap Desa dalam Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat

No

Jenis Gulma

SDR (%) Rata-Rata Masing-Masing Gulma

Pada Setiap Desa

Desa

Pinem

Desa Leukeun

Desa

Gampoeng

Ladang

Desa

Pange

1

Frimbristylis milliaceae

53,68

61,39

60,37

46,37

2

Echinochloa crusgalli

25,55

16,34

18,89

12,9

3

Commelina diffusa

12,1

9,93

14,91

6,41

4

Monochorria hastata

1,73

3,52

-

4,81

5

Frimbristylis alboviridis

0,57

-

0,88

4,01

6

Cyperus diformis

1,73

-

-

3,49

7

Ludwigia parennis

1,73

1,76

2,21

3,20

8

Cyperus pilosus

-

-

-

3,20

9

Leptocholoa chinesis

-

-

-

2,69

10

Monochorria viginalis

1,15

-

-

2,40

11

Ludwigia hysopifolia

-

-

-

2,40

12

Comelina nudiflora

-

3,52

1,33

2,40

13

Elatine triandra schkuhr

-

-

-

1,6

14

Rotala leptopetela

-

-

-

1,6

15

Echinochloa colanum

1,73

3,52

1,35

1,6

16

Euporbia hypericiafolia

-

-

-

0,8

Jumlah

99,97

99,98

99,94

99,88

Dari tabel di atas menunjukkan, gulma yang dominan pada tiap-tiap Desa yang dijadikan sampel adalah Frimbristylis miliaceae (Cyperaceae), disusul Echinochloa crusgalli (Gramineae). Terjadinya pendominasian oleh gulma yang tergolong ke dalam teki-tekian dikarenakan, gulma tekian tidak hanya berkembang biak dengan biji saja, tetapi dapat juga berkembang biak dengan umbinya. Hal ini menyebabkan peluang tekian untuk tumbuh dan mendominasi persaingan lebih besar. Seperti yang dikemukakan oleh Bangun (1996) bahwa cara perkembangbiakan yang komplek (rhizoma, umbi, biji) merupakan faktor utama penyebab dominannya gulma dari golongan tekian. Moenandir (1988), menambahkan bahwa tumbuhan yang mempunyai stolon, rhizoma akan lebih cepat berkembang,biak dan akan mempunyai sifat sebagai pesaing yang sangat kuat dikarenakan tumbuhan ini bersifat cepat menyerap faktor tumbuh untuk pertumbuhannya.

Terjadi pendominasian oleh tekian dimungkinkan juga karena biji tekian yang tertinggal di lahan dapat bertahan diri terhadap genangan air pada saat pengelolaan tanah. Hasanuddin (1989) melaporkan bahwa gulma mempunyai daya adaptasi yang tinggi atau mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dan tetap hidup pada lingkungan yang tidak menguntungkan.

Selain itu pendominasian gulma F. miliaceae di lahan persawahan tiap-tiap desa di Kecamatan Samatiga dimungkinkan juga karena F. miliaceae merupakan gulma yang proses tumbuhnya secara berumpun dan rapat sehingga peluang zat allelopati yang dikeluarkan lebih banyak dari pada gulma lain. Kualitas dan kuantitas senyawa allelopati yang dikeluarkan oleh gulma dipengaruhi oleh kerapatan gulma, macam gulma, saat kemunculan gulma serta kecepatan tumbuh gulma tersebut.

Terjadi pendominasian oleh Echinochloa crusgalli dikarenakan gulma ini susah untuk dibedakan pada saat penyiangan. Ini disebabkan, pada waktu pertumbuhan awal gulma ini persis mirip dengan tanaman padi, akibatnya gulma ini seringkali tertinggal hingga menyebabkan persaingan tetap ada.. Hal senada juga dikemukakan oleh Bangun (1986), bahwa Echinochloa crusgalli merupakan gulma yang paling kompetitif pada tanaman padi, karena bentuk pertumbuhan awal yang sama dengan tanaman padi maka gulma ini sulit disiang.

Selain itu, Echinochloa crusgalli dapat mendominasi lahan persawahan di tiap-tiap desa yang menjadi sampel dikarenakan E. crusgalli merupakan gulma yang mempunyai batang kokoh, tegak, tinggi, dan merupakan salah satu gulma tahunan yang berkembang biak dengan biji serta mempunyai biji yang banyak dan dormansi biji yang panjang sehingga mampu bertahan lama di lahan dan akan tumbuh pada musim tanam berikutnya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Madkar (1986) yang mengatakan bahwa biji-biji gulma biasanya banyak ditemukan di permukaan tanah atau terbenam dalam lumpur yang dangkal maupun di dalam lumpur yang dalam. Umumnya biji-biji gulma (E. crusgalli) berasal dari gulma musim lalu yang dorman dan akan tumbuh pada musim berikutnya.

5. 5. Perhitungan Nilai Koofesien Komunitas Gulma Dari Lahan Persawahan Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat

Untuk membandingkan antar komunitas dalam praktek lapangan ini, dilakukan perhitungan koofesien komunitas seperti terlihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 2. Nilai koefesien komunitas

No

Strata

Nilai Koefesien Komunitas (%)

1

Desa Pinem : Desa Leuken

85,16

2

Desa Pinem : Desa Gampong

Ladang

88,35

3

Desa Pinem : Desa Pange

74,25

4

Desa Leuken : Desa Gampong

Ladang

91,99

5

Desa Leuken : Desa Pangee

75,01

6

Desa Gampong Landang : Desa Pangee

71,51

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa nilai koefesien komunitas antar desa yang diperbandingkan rata-rata diatas 75%, ini berarti perbedaan gulma antara desa satu dengan desa lainnya bersifat homogen atau tidak begitu berbeda, sehingga memenuhi syarat suntuk memperbandingkan pengaruh pengendalian. Hal ini sesui dengan apa yang dikemukakan oleh Tjitrosoedirdjo (1984) bahwa bila nilai koefesien komunitas diatas 75% cukup memenuhi sebagai syarat untuk dipakai sebagai tempat memperbandingkan pengaruh metode pengendalian.

VI. KESIMPULAN

- Gulma Frimbristtylis miliceae (Cyperaceae), disusul Echinochloa crusgalli (Gramineae) merupakan gulma yang sangat dominan pada lahan persawahan di kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat.

- Metode pengendalian gulma yang dilakukan oleh petani di Kecamatan Samatiga adalah secara kultur teknis yang terdiri dari pengolahan tanah, penggenangan air dan pemupukan serta pengendalian secara kimia yang dilanjutkan dengan penyiangan.

- Berdasarkan nilai koofesien komunitas, perlu dicoba kembangkan kombinasi sistem pengendalian yang berbeda pada tiap-tiap desa yang menjadi sampel tersebut, tetapi tidak keluar dari koridor pengendalian secara terpadu.

- Diperlukan penambahan frekuensi pelatihan atau penyuluhan tentang sistem pengendalian gulma yang tepat kepada petani di seluruh desa yang ada di Kecamatan Samatiga Kabupaten Aceh Barat.

DAFTAR PUSTAKA

Bangun, P. 1986. Masalah dan Prospek Pengendalian Gulma Secara Kimia Pada Tanaman Padi Sawah di Masa Depan. Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor. Jurnal Litbang Pertanian. V (1).

Bangu, P dan M. Syam. 1989. Pengendalian Gulma Pada Tanaman Padi. Badan Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.

De Datta, S. K. 1981. Weed Control in rice in South and Southeast Asia. FFIC Book Series 20: 1-24. Philippines.

De Datta, S. K. 1985. Tecnology development and spread of direct seeded f;ooded rice in Southeast Asia. Paper presented at International Rice Research Conference 1-5 june 1985. IRRI. Los Banos Philipine.

Hasanuddin. 1989. Tanggapan Tanaman Padi (Oryza sativa L.) Terhadap Kompetisi Gulma-Gulma Dominan. Fakultas Pasca Sarjana Universitas Padjadjaran. Bandung.

Ismunadji, M., dan S.O. Manurung. 1988. Padi ‘’ Morfologi dan Fisiologi Padi’’. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
Junandar. 2007. Analisis Padi Sawah Di Kabupaten Pandagelang. http://dispertanak.pandagelang.go.id./artikel_07.htm. Akses tanggal 21 juli 2007
Madkar R. O., Kuntohartono T., Mangoensoekardjo. 1986. Masalah Gulma Dan Cara Pengendaliannya. Himpunan Ilmu Gulma Indonesia. Bogor.

Moenandir, J. 1988. Pengantar Ilmu Dan Pengendalian Gulma (Ilmu Gulma-Buku I). Rajawali. Jakarta

Moenandir, 1988. Persaingan Tanaman Budidaya Dengan Gulma (ilmu gulma-buku III). RajaGrafindo Persada. Jakarta

Moenandir, J. 1993. Ilmu gulma dalam sitem perairan, RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Pawiroesoemardjo, S dan Sudarmadji, D. 1990. Perlindungna Tanaman Menuju Terwujudnya Pertanian Tangguh Dan Kelestarian Lingkungan. Agricon. Jakarta.

Pitoyo, J. 2006. Mesin Penyiang Gulma Padi Sawah Bermotor. Sinar Tani.Edisi 5-11 Juli 2006. http://www.pustaka-deptan.go.id. Akses tanggal 9 juli 2007

Pritman, K. 2000. Padi (Oryza Sativa). TTG Budidaya Pertanian. BPP Teknologi. Jakarta

.

Sastroutomo, S, S. 1990. Ekologi Gulma. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Soejani, M., A. J. G. H. Kostermans, G. Tjitrosoepomo. 1987. Weeds of Rice In Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.

Sukma, Y dan Yakup. 2002. gulma dan Teknik Pengendaliannya. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Sundaru, M. Syam, M. Bakar, J. 1976. Beberapa Jenis Gulma Padi Sawah. Lembaga Pusat Penelitian Pertanian Bogor, Buletin Tehnik No. 1

Suparyono & Agus, S. 1994. Padi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Syam, M. dan Hermanto. 1995. kinerja Penelitian Tanaman Pangan “Buku 2- Padi”. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanamn Pangan. Bogor.

Teddy. 2003. Makalah Gulma. http://www.deptan.go.id. Akses tgl 24 juli 2007

Van Steenis, C.G.G.J, 1981. Flora: Untuk Sekolah Di Indonesia. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: